Sunday, October 29, 2017

Berhati-hatilah dengan Penguntit di Dunia Digital

IBX59F68AA473B4B Penguntit, atau mungkin kamu lebih familiar dengan istilah bahasa Inggrisnya yaitu stalker, adalah salah satu oknum yang kamu harus berhati-hati dengannya. Di dunia digital ini apa saja dengan mudah dicari jika memang informasinya tersedia. Oleh karena itu, salah satu bentuk penjagaan diri dari penyalahgunaan yang dilakukan orang lain terhadap data-data digitalmu, kamu harus membatasi apa saja yang dibagi di internet.


Tidak semua yang membuatmu senang atau membanggakan layak kamu bagikan di internet. Banyak sekali orang yang tidak bertanggung jawab akan dengan mudah menyalahgunakannya jika kamu membagikan banyak hal tentang hidupmu. Apalagi di era media sosial ini, banyak sekali kasus akun kloning yang seakan seperti akun asli yang punya banyak foto. Ini akibat terlalu mudah membagikan ke banyak orang. Sebenarnya sih media sosial sudah memberikan fitur privasi yang hanya bisa diketahui oleh beberapa orang terdekat saja. Namun, sepertinya banyak orang yang acuh dengan fitur pengamanan ini.

Saya sendiri untuk menghindari kelakukan penguntit yang menyebalkan ini, saya berkomitmen untuk membatasi jumlah foto yang saya unggah di internet. Kebanyakan yang saya unggah adalah avatar atau gambar lainnya untuk foto profil. Hal ini bukan karena saya tidak percaya diri dengan wajah saya sendiri, namun lebih ke arah tindakan preventif dari untitan para penguntit yang berbahaya di dunia digital.

Tak sebatas itu, saya juga mengingatkan keluarga atau teman terdekat saya mengenai pentingnya menjaga privasi di internet. Jangan sampai kehidupan kita diunggah semua di internet. Suatu saat penyesalan itu akan datang jika kita tak punya privasi sama sekali. Bukan tidak mungkin akan banyak hal yang tidak menyenangkan seperti penipuan mengatasnamakan dirimu yang dilakukan orang lain bisa terjadi, kasus edit dan crop foto yang tidak senonoh, santet via foto, atau hal lainnya yang lebih parah.

Maka dari itu, berhati-hatilah mulai saat ini. Bijaklah dalam bermedia sosial. Menghindari madhorot (kejelekan) yang lebih besar itu harus diutamakan daripada mengambil manfaat yang kecil.

Monday, October 23, 2017

Pribumi atau Bukan?

Beberapa saat yang lalu, dunia digital diributkan dengan istilah pribumi atau nonpribumi. Sebenarnya ini pembahasan yang tidak terlalu penting. Namun, karena memang Digital Monkey ini adalah blog yang tergelantung di dunia digital, maka rasanya sedikit perlu untuk membahas hal ini.


Kalau dilihat pengertian pribumi di Wikipedia akan kita dapati bahwa pribumi adalah penduduk asli suatu wilayah. Lahir di sana dengan keadaan orang tuanya juga lahir di tempat itu. Ini definisi yang sangat mudah dipahami menurut saya.

Namun, karena wajah yang berbeda ini, yang satu berkelopak, lainnya tidak berkelopak; ini terkadang menimbulkan musykilat tersendiri. Apalagi sejak perseteruan politik di tahun 2014, masalah rasis ini mulai meruncing di dunia digital.

Paling mudah untuk menentukan pribumi atau bukan, kamu bisa langsung menghitung sendiri. Apakah kamu lahir di daerah itu? Apakah orang tuamu juga lahir di tempat itu? Apakah kamu berbahasa dengan bahasa daerah itu? Apakah ada ikatan batin bahwa daerah itu adalah tanah airmu dan pantas kamu bela hingga tertumpah darah? Jika ya, berarti kamu pribumi. Karena memang beberapa ciri pribumi seperti yang saya sebutkan tadi. Seseorang secara fitrah pasti mencinta tanah airnya.

Namun, jika patokan menentukan pribumi dengan menarik garis pertama kali yang menempati; tentu saja manusia ini juga bukan pribumi. Faktanya, Nabi Adam juga bukan asli penduduk bumi, namun asli penduduk Surga.